Minggu, 09 Mei 2021

Vladimir Vujovic: Media Sosial Jadi Masalah Terbesar Sepak Bola Indonesia

Media sosial menjadi masalah buruk bagi pemain di Indonesia.

Rauhanda Riyantama | Arif Budi Setyanto
cloud_download Baca offline
cover_caption
Pelatih PSIM Yogyakarta, Vladimir Vujovic, saat memberi keterangan pers menjelang pertandingan kontra Mitra Kukar, Selasa (25/6/2019). (Dok. Media Offiver PSIM).

Bolatimes.com - Media sosial menjadi masalah terbesar dalam sepak bola Indonesia karena bisa berpengaruh ke performa di atas lapangan. Hal itu disampaikan oleh mantan bek Persib Bandung, Vladimir Vujovic.

Baru-baru ini, Vladimir Vujovic yang akrab disapa Vlado terlibat dalam sesi tanya jawab di akun YouTube Persib Bandung. Dipandu oleh Kim Kurniawan, Vlado bercerita tentang perkembangan pemain di Indonesia.

Menurut pria asal Montenegro tersebut, sejatinya pemain Indonesia layak untuk berkarier di kompetisi luar negeri. Sayangnya, masih banyak pemain yang belum berani ambil risiko.

"Penting bagi pemain untuk mengambil sedikit risiko, karena pemain Indonesia tidak ada yang mau mengambil risiko. Kenapa, karena mereka bisa menjadi orang yang disalahkan semua orang," ucap Vlado.

Bagi Vlado hal yang sangat berpengaruh besar di sepak bola Indonesia adalah media sosial. Sebab, pemain terlalu mementingkan performa buruk yang biasa dilontarkan oleh netizen.

"Saya kira masalah terbesar di sepak bola Indonesia adalah karena media sosial. Para pemain terlalu mementingkan komentar di media sosial, sehingga mereka takut berbuat kesalahan," imbuhnya.

Vlado pun memberikan solusi terkait polemik ini. Dia mengatakan para pemain membutuhkan sosok admin untuk mengelola media sosial mereka, sehingga tidak akan memengaruhi performanya di atas lapangan.

Komentar yang dilontarkan Vlado sendiri bukan tanpa alasan. Hal itu diketahui karena Vladimir Vujovic sudah malang melintang di dunia sepak bola Tanah Air.

Tercatat dia pernah berseragam Persib Bandung dan Bhayangkara FC. Bahkan Vlado sempat menjadi pelatih klub asal Indoensia, PSIM Yogyakarta sebelum mundur pada Juli 2019 lalu.

Terkait

Terkini