Minggu, 16 Mei 2021

Timnas Era Dualisme Lebih Baik daripada Skuat Piala AFF 2018

Timnas era dualisme ketika itu masih mampu mengemas empat poin dari tiga laga di Piala AFF 2012.

Stephanus Aranditio | Irwan Febri Rialdi
cloud_download Baca offline
cover_caption
Timnas Indonesia di Piala AFF 2012. (Mohd Rasfan/AFP).

Bolatimes.com - Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 tampaknya tak perlu dirisaukan. Ya, para pecinta sepak bola Tanah Air pasti sudah begitu akrab karena ini bukanlah pertama kalinya sejak edisi 2007, 2012, dan 2014.

Perjalanan skuat Garuda telah dipastikan gagal di Piala AFF 2018 setelah Filipina mampu bermain imbang 1-1 kontra Thailand, Rabu (21/11/18). Tambahan satu poin membuat kedua tim mengoleksi tujuh poin, angka yang sudah tak bisa dikejar oleh skuat Garuda walau masih menyimpan satu laga.

Pada laga pamungkas Grup B, Timnas Indonesia bakal menjamu Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Minggu (25/11/2018). Namun, pertandingan itu sudah tak berpengaruh apapun bagi pasukan Bima Sakti walau mencetak 100 gol sekalipun.

Pemain Timnas Indonesia meluapkan kekecewaan setelah gawang Indonesia dibobol Thailand dalam laga lanjutan Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/11/2018). Indonesia dikalahkan tuan rumah Thailand dengan skor 4-2. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Pemain Timnas Indonesia meluapkan kekecewaan setelah gawang Indonesia dibobol Thailand dalam laga lanjutan Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/11/2018). Indonesia dikalahkan tuan rumah Thailand dengan skor 4-2. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

 

Kegagalan memang sudah mulai akrab sejak 2007, tetapi kali ini sungguh mengenaskan. Prestasi skuat Garuda bahkan bisa dibilang lebih buruk dari Timnas Indonesia di Piala AFF 2012, di mana skuat kala itu disebut asal-asalan karena berasal dari Liga Primer Indonesia (LPI) era dualisme dan bukan pasukan terbaik.

Di Piala AFF 2012, Timnas Indonesia berada dalam masa kelam karena dualisme kepengurusan PSSI. Imbasnya, skuat Merah-Putih mengalami perpecahan dan tidak dibentuk dari pemain yang terbaik. Timnas Indonesia yang dipimpin oleh pelatih Nilmaizar, mayoritas diisi oleh pemain yang berkiprah di LPI.

Kala itu, para pemain yang berkarier di klub Indonesia Super League (ISL) menolak membela skuat Garuda karena diancam diputus kontrak oleh klub masing-masing. Hanya ada dua pemain yang nekat ketika itu, yakni Bambang Pamungkas (Persija Jakarta) dan Oktovianus Maniani (Persiram Raja Ampat).

Alhasil Nilmaizar hanya menggunakan pemain seadanya dan untuk menambal skuat Timnas Indonesia, PSSI mendatangkan pemain naturalisasi, Raphael Maitimo, Tonnie Cussel, dan Jhon van Beukering, yang sayangnya performa mereka tak seperti ekspektasi.

Meski demikian, perjuangan skuat 'Timnas Indonesia Alakadarnya' bermain lebih baik ketimbang Timnas Indonesia yang berjuang di Piala AFF 2018. Bagaimana tidak, dari tiga pertandingan, skuat Garuda bisa maraup empat poin dibanding Hansamu Yama cs yang hanya memetik tiga poin.

Perjalanan 'Timnas alakadarnya' di Piala AFF 2012

Piala AFF 2012 dihelat di Malaysia. Pada laga pembuka, tim Garuda hanya mampu bermain imbang 2-2 ketika bersua Laos. Catatan ini sebenarnya buruk karena Laos sebelumnya dibantai Indonesia di ajang sebelumnya.

Hasil itu pun secara pasti membuat publik pecinta sepak bola Indonesia pesimistis pada laga kedua, karena yang menjadi lawan adalah sang juara dua kali, Timnas Singapura. Namun siapa sangka, anak asuh Nilmaizar justru mamou memetik kemenangan tipis 1-0 (lebih baik ketimbang kalah 0-1 di Piala AFF 2018). Ketika itu, gol semata wayang skuat Garuda tendangan bebas dari jarak jauh dilepaskan Andik Vermansah.

Timnas Indonesia di Piala AFF 2012. (Mohd Rasfan/AFP).
Timnas Indonesia di Piala AFF 2012. (Mohd Rasfan/AFP).

 

Sayangnya, perjuangan Timnas Indonesia kala itu harus terhenti di babak grup setelah menelan kekalahan 2-0 atas tuan rumah Malaysia. Gawang tim Merah-Putih yang dikawal oleh Wahyu Tri Nugroho dikoyak oleh Azamuddin Bun Mohd Akil dan Mahali Jasali.

Walau begitu, perlu digaris bawahi, dari tiga pertandingan anak asuh Nilmaizar mampu mengemas empat poin. Skuat Garuda ketika itu mampu mencetak tiga gol dan kebobolan empat kali. Sementara itu, Timnas Indonesia di Piala AFF 2018, dari tiga pertandingan, hanya mengemas tiga poin, memasukan lima kali, dan kebobolan enam kali.

Terkait

Terkini