Kamis, 25 Februari 2021

Pelatih Akademi La Liga Ungkap Alasan Indonesia Tak Sehebat Spanyol

Padahal, Indonesia dan Spanyol memiliki budaya sepak bola yang mirip

Irwan Febri Rialdi
cloud_download Baca offline
cover_caption
Tangkapan layar Eladio Antonio R.R, Head Coach Estrellas Del Futbol (EDF) LaLiga Academy saat tampil dalam sebuah acara webinar berjudul Akademi di Tengah Pandemi, Sabtu (20/2/2021) (Sumber: Dok. JOY)

Bolatimes.com - Head Coach Estrellas Del Futbol (EDF) LaLiga Academy, Eladio Antonio R.R, mengungkapkan alasan mengapa sepak bola Indonesia tidak bisa semaju Spanyol. Padahal, ia merasa kedua negara ini memiliki kemirian.

Eladio Antonio R.R tengah berada di Indonesia. Ia membagukan ilmunya kepada anak-anak, terutama akademi sepak bola La Liga yang berada di Jakarta.

Eladio membeberkan alasan mengapa La Liga membuka akademi di Indonesia. Itu karena budaya sepak bola Indonesia dan Spanyol memiliki kemiripan, yakni gaya bermain yang cepat dari kaki ke kaki.

"Beda kalau di Inggris yang main bola-bola panjang diakhiri heading. Di Indonesia itu tidak bisa diterapkan, di Spanyol pun juga tak sempurna itu diterapkan," kata

"Apalagi PSSI juga ada program pengiriman pelatih-pelatih Indonesia untuk belajar pembinaan di Spanyol. Jadi masih ada kemiripan budaya sepak bolanya," kata Eladio saat menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Akademi di Tengah Pandemi, Sabtu (20/2/2021).

Meski menerapkan konsep pembinaan La Liga, tetapi Eladio mengakui tak bisa merealisasikannya persis 100 persen.

Perbedaan fasilitas hingga kultur masyarakatnya yang membuat Eladio harus pintar-pintar melakukan penyesuaian.

Dia mengambil contoh soal makanan bernutrisi dimana di Spanyol sangat diperhatikan betul. Berbeda dengan Indonesia, terutama kebiasaan para pemain yang gemar menyantao gorengan.

“Di Indonesia, tidak bisa dijalankan sempurna karena anak-anak makan dan minum di rumah masing-masing. Apalagai terkait budaya, di Indonesia anak-anak itu suka makan gorengan. Iya gorengan,” ungkap Eladio.

“Makanya saya harus lihat apa yang bisa diterapkan akademi di Indonesia. Misal soal makan, kami hanya bisa berpesan jika mau bertanding itu 4 jam sebelumnya jangan makan dan minum yang berat,” paparnya.

Terkait dengan pembinaan usia dini, Eladio menekan adanya prinsip bahwa pemberian materi sepak bola untuk anak usia 6 tahun tidak boleh disamakan dengan usia yang jauh di atasnya.

Bahkan untuk penyampaian materi kepada peserta akademi juga harus dibedakan berdasarkan usianya.

“Bicara sepak bola untuk anak usia 6 dan 8 tahun tidak bisa masuk materi taktik. Tapi kalau usianya sudah di atasnya bisa lebih mudah mengajari. Lalu cara menyampaikan harus beda. Usia lebih kecil lebih sensitif karena kalau kita sampaikan lebih kasar maka anak-anak akan tak nyaman dengan kita,” tuturnya.

Selain Eladio, webinar yang diselenggarakan sejumlah jurnalis olahraga di Yogyakarta yang tergabung dalam JOY itu juga menghadirkan pembicara lainnya.

Seperti mantan pelatih PS Tira Rudy Eka Priyambada (Safin Pati Football Academy), Guntur Cahyo Utomo (Kepala Development Center PSS Sleman Academy) dan legenda Persebaya Surabaya Mat Halil (El-Faza FC).

“Youth development itu investasi untuk kesinambungan sepak bola secara global. Sehingga kami priortas di youth development,” sambung Guntur Cahyo Utomo dari PSS Sleman Academy.

“Berhentinya kompetisi tidak menyurutkan semangat Akademi PS Sleman untuk melakukan pembinaan pemain usia muda. Mereka tetap berlatih dengan sistem trial sejak September tahun lalu,” tambah dia.

Sementara itu Ketua JOY Gonang Susatio menambahkan dari webinar ini bisa diketahui bagaimana akademi atau diklat itu tetap berupaya melakukan pembinaan saat pandemi.

“Saat liga terhenti, ternyata mereka tetap aktif melatih dengan menerapkan protokol kesehatan. Artinya pasti ada yang berubah di tengah situasi seperti ini,” tandas dia.

Terkait

Terkini