Sabtu, 08 Agustus 2020

Kisah Getir Wigan Athletic, Juara Piala FA tapi Terdegradasi di Liga Primer

Wigan menjadi juara Piala FA pada musim 2012/2013.

Rauhanda Riyantama
cloud_download Baca offline
cover_caption
Wigan Athletic saat menjadi juara Piala FA 2012/2013. (ANDREW YATES / AFP)

Bolatimes.com - Nama Wigan Athletic mungkin tak setenar tim-tim besar Liga Primer Inggris seperti Liverpool, Manchester United, atau pun Arsenal. Namun, klub berjuluk The Latics itu punya cerita manis saat menjadi jawara Piala FA musim 2012/2013.

Kala itu Wigan muncul sebagai kuda hitam di Piala FA. Berangkat dari cap tim medioker yang tak dijagokan, mereka lantas muncul sebagai kejutan di turnamen tertua di dunia tersebut.

Wigan mengawali perjalanan di Piala FA sebenarnya tak mulus-mulus amat. Wigan yang pada musim itu berlaga di Liga Primer justru hanya bermain imbang 1-1 kontra Bournemouth pada leg pertama.

Beruntung, Wigan berhasil menang 1-0 pada leg kedua di markas Bournemouth yang hanya bermain di League One. Berkat kemenangan itu, tim yang diarsiteki Roberto Martinez kala itu sukses melaju ke babak selanjutnya.

Wigan yang kala itu dihuni pemain seperti penjaga gawang fenomenal asal Oman, Ali Al-Habsi, kemudian Callum McManaman hingga Emmerson Boyce, akhirnya sukses melaju ke babak perempatfinal. Di babak tersebut Wigan sudah ditunggu lawan berat Everton.

Tak dijagokan juga, Wigan secara mengejutkan sukses membantai Everton dengan skor 3-0. Setelah itu mereka lolos ke babak semifinal untuk melawan Millwall FC.

Wigan pun terus menunjukkan kejutan. Callum McManaman cs sukses mengalahkan Millwall FC dengan skor 2-0 dan berhak melaju ke final sembari menunggu lawan antara Chelsea dan Manchester City yang saling jegal di babak semifinal lainnya.

Tepat pada 12 Mei 2013, Wigan Athletic juara Piala FA untuk pertama kalinya. (Twitter/@LaticsOfficial)
Tepat pada 12 Mei 2013, Wigan Athletic juara Piala FA untuk pertama kalinya. (Twitter/@LaticsOfficial)

Akhirnya Wigan ditakdirkan berjumpa Manchester City di babak final. Laga yang berlangsung di Wembley 11 Mei 2013, Wigan di atas kertas sangat tak diunggulkan.

Manchester City yang kala itu dinakhodai oleh Roberto Mancini digadang-gadang bakal menang mudah. Lebih lagi lini depan The Citizens dihuni oleh duet Carlos Tevez dan Sergio Aguero.

Namun bukannya jadi bulan-bulanan Manchester City, Wigan justru tampil spartan. Mereka mampu menahan imbang 0-0 hingga paruh babak kedua.

Kemudian kejutan pun datang dari Wigan. Mereka tampil menggila usai Manchester City harus bermain dengan 10 orang karena Pablo Zabaleta dikartu merah pada menit ke-84, .

Sadar waktu segera habis, Wigan langsung mengambil inisiatif menyerang. Terbukti, mereka sukses memecah kebuntuan lewat sepakan pojok oleh Shaum Maloney kemudian berhasil disambar oleh Ben Watson, dan gol pun terjadi.

Wigan akhirnya sukses mencatatkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya mereka menyabet trofi Piala FA dan menjadi gelar satu-satunya.

Namun superioritas Wigan di kancah Piala FA tak diikuti di Liga Primer Inggris. Mereka kala itu harus berjuang bangkit dari zona degradasi.

Saat itu Wigan berada di posisi 18 klasemen. Anak asuh Martinez hanya butuh setidaknya tiga poin untuk keluar dari zona merah.

Sialnya, Wigan akhirnya benar-benar terdegradasi. Mereka kalah 1-4 dari Arsenal di laga penentuan. Laga tersebut digelar di Emirates Stadium, empat hari setelah mengunci titel juara Piala FA.

Sebelum laga tersebut, CEO WIgan kala itu, yakni Dave Whelan rela untuk menikat trofi Piala FA dengan tiga poin. Baginya poin penuh penting demi menyelamatkan nasib klubnya tersebut.

''Saya sangat bangga (juara Piala FA). Tapi apabila ada yang meminta saya piala itu untuk ditukar dengan kemenangan di kandang Arsenal, saya takkan menolak,'' ujar Whelan kala itu, seperti dilansir dari The Sun.

''Karena bagi saya sangat penting bertahan di Liga Primer. Saya juga yakin banyak orang menilai kami pantas tetap berada di sini,'' tandasnya.

Sejak didegradasi pada musim 2012/2013, Wigan tak pernah sekali pun promosi lagi ke Liga Primer Inggris. Kini mereka harus puas berkompetisi di kasta kedua Inggris, Divisi Championship.

Terkait

Terkini